Penyuluh Agama Gedongtengen Ikuti Jelajah Sejarah dan Budaya “MLOKA-MLOKU Taman Yuwono”
Yogyakarta, 1 September 2026 — Penyuluh Agama Islam Kemantren Gedongtengen, Samsul Ma’arif, mengikuti kegiatan MLOKA-MLOKU Taman Yuwono: Kiprah Saudagar Batik Yogyakarta, Haji Bilal yang diselenggarakan pada Senin, 31 Agustus 2026. Samsul Ma’arif mengikuti kegiatan tersebut pada sesi kedua, pukul 12.00–14.00 WIB.
Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya, dan jejak para tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan kawasan Gedongtengen. Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik adalah pengenalan dan praktik membatik, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai batik sebagai warisan budaya, tetapi juga berkesempatan memahami proses pembuatannya secara langsung.
Selain belajar membatik, peserta diajak mengenal sejumlah rumah dan bangunan istimewa yang memiliki nilai sejarah di wilayah Gedongtengen. Salah satunya adalah Taman Yuwono, sebuah tempat yang menyimpan jejak perjalanan sejarah dan kehidupan tokoh-tokoh pada masa lalu.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga memperoleh wawasan mengenai AR Baswedan yang pada masa itu pernah menempati Rumah Taman Yuwono. Jejak sejarah tersebut menjadi bagian penting dalam memahami perjalanan kawasan Gedongtengen sebagai wilayah yang tidak hanya memiliki kehidupan sosial dan keagamaan yang dinamis, tetapi juga kaya akan warisan sejarah dan budaya.
Bagi Samsul Ma’arif, kegiatan semacam ini memberikan perspektif yang lebih luas bagi penyuluh agama. Memahami sejarah dan budaya lokal merupakan bagian penting dalam membangun pendekatan dakwah yang kontekstual, karena nilai-nilai agama dapat disampaikan dengan memahami karakter masyarakat serta lingkungan tempat mereka hidup.
Kegiatan MLOKA-MLOKU sekaligus menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya dan sejarah lokal. Dengan mengenal kembali bangunan, tokoh, serta tradisi yang ada di sekitar masyarakat, generasi saat ini diharapkan semakin menghargai dan menjaga identitas budaya Yogyakarta, khususnya kawasan Gedongtengen.

0 comments:
Posting Komentar