Kepala KUA Gedongtengen Pimpin Akad Nikah dan Sampaikan Pesan Pernikahan sebagai Ibadah
Yogyakarta (KUA Gedongtengen) – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti prosesi akad nikah pasangan Dedi Nugraha dan Aprilia Hardiyanti yang dilaksanakan pada Ahad (31/5/2026). Acara yang berlangsung sederhana namun sarat makna tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KUA Gedongtengen, Noerohini, S.Ag., M.H.
Sebelum pelaksanaan ijab kabul, Noerohini menyampaikan khotbah nikah yang memberikan pesan mendalam kepada kedua mempelai dan keluarga yang hadir. Dalam nasihatnya, ia menekankan bahwa pernikahan dalam Islam bukan semata-mata didasarkan pada ketertarikan fisik, melainkan merupakan ikatan suci yang bernilai ibadah dan menjadi sarana meraih ridha Allah SWT.
“Menikah bukan soal wajah. Wajah akan menua, kecantikan dan ketampanan fisik akan memudar seiring perjalanan waktu. Namun apabila fondasi rumah tangga dibangun atas dasar ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT, maka insya Allah rumah tangga akan tetap kokoh dan penuh keberkahan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Noerohini mengingatkan bahwa pernikahan merupakan salah satu cara menyempurnakan separuh agama. Karena itu, setelah akad nikah terlaksana, suami dan istri memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga keimanan, saling menasihati dalam kebaikan, serta bersama-sama membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Prosesi ijab kabul berlangsung lancar dan penuh haru. Dedi Nugraha berhasil mengucapkan lafaz akad nikah dengan baik dalam satu tarikan napas dan dinyatakan sah oleh wali nikah serta para saksi yang hadir. Dengan demikian, Dedi Nugraha dan Aprilia Hardiyanti resmi menjadi pasangan suami istri.
Suasana haru semakin terasa saat kedua mempelai menjalani prosesi sungkeman kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan permohonan doa restu. Tangis bahagia dan rasa syukur mewarnai momen tersebut, sementara para tamu undangan turut memanjatkan doa agar keluarga baru ini senantiasa diberikan kebahagiaan, ketenteraman, dan keberkahan oleh Allah SWT.
Acara kemudian dilanjutkan dengan resepsi sederhana yang dihadiri keluarga, kerabat, dan tetangga sekitar sebagai ungkapan rasa syukur atas terselenggaranya pernikahan tersebut. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga awal perjalanan ibadah panjang dalam membangun keluarga yang harmonis dan diridhai Allah SWT.[ariadi]

0 comments:
Posting Komentar