Penyuluh Agama KUA Gedongtengen Membersamai Pengajian Forkompimtren, Bedah Filosofi QS. Al-Baqarah: 183

Posted by KUA Gedongtengen on Kamis, Februari 12, 2026 with No comments

 Yogyakarta – Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen, Eman Suherman bersama rekan-rekan penyuluh, membersamai kegiatan Pengajian Forum Komunikasi Pimpinan Kemantren (Forkompimtren) pada Kamis, 12 Februari 2026, bertempat di Pendopo Kemantren Gedongtengen.


Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dr. Khamim Zarkasi Putera yang menyampaikan pemahaman mendalam tentang filosofi Surat Al-Baqarah ayat 183, ayat yang menjadi dasar kewajiban puasa Ramadan:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam pemaparannya, Dr. Khamim menjelaskan empat hal penting yang perlu diketahui dalam ayat tersebut:

Pertama, panggilan kemuliaan bagi orang beriman.

Ayat diawali dengan “Yā ayyuhalladzīna āmanū” yang menunjukkan bahwa kewajiban puasa adalah bentuk penghormatan Allah kepada orang beriman. Setiap panggilan ini mengandung perintah atau pesan besar yang membutuhkan kesungguhan.

Kedua, puasa adalah kewajiban yang memiliki sejarah panjang.

Frasa “kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum” menegaskan bahwa puasa bukan syariat baru, melainkan ibadah universal yang juga diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Hal ini menunjukkan nilai spiritual puasa yang lintas zaman.

Ketiga, puasa sebagai proses pendidikan ruhani.
Kata “kutiba” (diwajibkan) menunjukkan ketegasan hukum, namun sekaligus menjadi sarana pembinaan diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan mengendalikan hawa nafsu dan membangun kedisiplinan spiritual.

Keempat, tujuan akhir adalah takwa.
Frasa “la‘allakum tattaqūn” mengandung makna tujuan, yakni agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa dimaknai sebagai kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan, sehingga melahirkan pribadi yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia.

Penyuluh Agama KUA Gedongtengen, Eman Suherman, menyampaikan bahwa pengajian Forkompimtren ini menjadi momentum penting menjelang Ramadan untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus mempererat sinergi antara unsur pemerintah dan tokoh masyarakat di wilayah Gedongtengen.

Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme. Diharapkan melalui pengajian ini, nilai-nilai puasa tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, sehingga Ramadan benar-benar menjadi sarana pembentukan pribadi dan lingkungan yang bertakwa.[sams]