MENGULIK RASA 3 : MENDAMBA MIMI DAN MINTUNA
Apa atau siapa Mimi dan Mintuna?Ternyata Mimi dan Mintuna adalah nama hewan sejenis ikan yang menghuni perairan dangkal. Bentuknya seperti ladam kuda berekor.
Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan mintuna adakah untuk yang berkelamin betina. Hewan tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Jika pasangan hewan ini dipisahkan keduanya akan segera mati. Jika hewan ini dimasak tidak bersamaan akan beracun tetapi jika dimasak bersamaan menjadi sehat dan enak dikonsumsi.
Ke mana mimi pergi, mintuna mengikuti. Ke mana mintuna bergerak, mimi pun ada di sampingnya. Mereka tidak sibuk mencari siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berkuasa, atau siapa yang harus selalu berada di depan.
Mereka hanya tahu satu hal: hidup akan terasa lebih indah ketika dijalani bersama.
Begitulah sejatinya pasangan dalam rumah tangga.
Bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang bersedia tetap menggenggam tangan ketika keadaan sedang sulit. Bukan tentang siapa yang selalu benar, tetapi siapa yang mau belajar memahami ketika terjadi perbedaan.
1. Mimi dan Mintuna: Simbol Kebersamaan
Dalam budaya Jawa, mimi lan mintuna sering menjadi gambaran pasangan yang hidup berdampingan, rukun, setia, dan saling melengkapi.
Keduanya menjadi simbol harapan agar pasangan suami istri dapat menjalani kehidupan bersama hingga tua.
Rumah tangga bukan perjalanan yang selalu dihiasi bunga.
Ada hari ketika suami pulang dengan tubuh lelah. Ada saat istri merasa penat mengurus rumah. Ada persoalan ekonomi, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan mungkin air mata.
Namun pasangan yang serasi bukanlah pasangan yang tidak pernah memiliki masalah.
Pasangan serasi adalah pasangan yang ketika masalah datang, memilih duduk bersama, bukan saling meninggalkan.
2. Tidak Harus Sama, tetapi Saling Melengkapi
Mimi dan mintuna tidak harus menjadi satu bentuk yang sama.
Demikian pula suami dan istri.
Karakter boleh berbeda. Cara berpikir boleh berbeda. Kesukaan boleh berbeda. Bahkan pendapat pun terkadang berbeda.
Yang penting adalah bagaimana perbedaan itu menjadi kekuatan.
Suami mungkin kuat dalam mencari nafkah, istri kuat dalam mengelola rumah. Suami pandai mengambil keputusan, istri pandai memberikan pertimbangan. Suami memiliki tenaga, istri memiliki ketelitian.
Perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi kesempatan untuk saling melengkapi.
3. Cinta Tidak Cukup Hanya Diucapkan
Cinta dalam rumah tangga bukan hanya berkata, “Aku mencintaimu.”
Cinta terkadang hadir dalam bentuk sederhana:
“Sudah makan?”
“Hati-hati di jalan.”
“Biar aku yang mengerjakan.”
“Maaf, tadi aku salah.”
“Terima kasih sudah berjuang.”
"Aku kangen"
Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin terlihat kecil, tetapi bagi pasangan yang sedang lelah, ia bisa menjadi obat yang sangat besar.
Sebab rumah yang nyaman bukan selalu rumah yang mewah.
Rumah yang nyaman adalah rumah tempat seseorang merasa dihargai, diterima, dan dicintai.
4. Ketika Salah Satu Terjatuh
Dalam perjalanan hidup, pasti ada masa ketika salah satu pasangan berada di bawah.
Ketika suami sedang gagal, jangan buru-buru merendahkan.
Ketika istri sedang lelah, jangan buru-buru menyalahkan.
Ketika pasangan melakukan kesalahan, jangan menjadikan kesalahannya sebagai senjata untuk melukai.
Bukankah pernikahan adalah janji untuk berjalan bersama?
Kalau hari ini pasangan kita sedang kuat, kita ikut bersyukur.
Kalau besok dia sedang lemah, kita yang menguatkan.
Begitulah mimi dan mintuna mengajarkan sebuah filosofi sederhana: bersama dalam perjalanan, bukan hanya bersama ketika keadaan menyenangkan.
5. Rumah Tangga Adalah Tempat Pulang
Dunia di luar rumah terkadang begitu keras.
Seseorang bisa gagal di tempat kerja. Bisa kecewa dengan orang lain. Bisa menghadapi banyak persoalan.
Maka jangan sampai rumah justru menjadi tempat paling menakutkan untuk pulang.
Jadikan pasangan sebagai tempat berteduh.
Ketika dunia berkata, “Kamu tidak mampu,” pasangan berkata, “Aku percaya kamu bisa.”
Ketika semua orang menyalahkan, pasangan berkata, “Mari kita cari jalan keluarnya bersama.”
Itulah rumah tangga yang menghadirkan ketenangan.
Mimi dan mintuna mengajarkan bahwa kebersamaan bukan berarti selalu berjalan tanpa masalah.
Kebersamaan adalah tetap memilih berjalan bersama meskipun jalan kehidupan tidak selalu mulus.
Maka kepada para pasangan suami istri, jangan hanya mencari pasangan yang sempurna.
Carilah cara untuk menjadi pasangan yang saling menyempurnakan.
Jadilah seperti mimi dan mintuna.
Bukan karena mereka tidak pernah berbeda arah, tetapi karena mereka selalu menemukan jalan untuk kembali berdampingan.
Sebab pada akhirnya, kebahagiaan rumah tangga bukan tentang siapa yang menang dalam setiap perdebatan.
Kebahagiaan adalah ketika suami dan istri sama-sama merasa:
“Di dunia ini, aku punya seseorang yang selalu ingin berjalan bersamaku.”
Mimi lan mintuna,
loro nanging siji tujuan, dua tapi satu tujuan
bedho nanging podho nglengkapi,
lan bebarengan nganti tuwa, beda tapi saling melengkapi dan bersama sampai tua.
Suami istri itu hendaknya selalu runtang runtung rerentengan tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dijauhkan. Mereka menjadi hidup penuh kekuatan apabila disatukan.
Semoga setiap rumah tangga menjadi rumah yang dipenuhi sakinah, mawaddah, warahmah, dan setiap pasangan mampu menjadi teman perjalanan hingga akhir hayat.

0 comments:
Posting Komentar